Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label writing

What I Wish I Had Known Years Ago Before Writing

Several days ago, I have just posted the last chapter of one of my stories on Wattpad,  Invalid , and it just dawns on me that, yea, I will write this topic and how making mistakes should not be my biggest fear in writing stories anymore. Just to illustrate the background of all this, I used to think so hard before posting my stories on Wattpad, since five years ago(?). That has become a habit since I read a lot of writing tips and how my stories shouldn’t be embarrassing, and how it should be—well, you know—perfect. I expect a lot from myself, and I do enjoy writing as best as I can. What differentiates my habit several years ago with now is that I did what I could, as best as I could. I cared about grammar, my characters, the research I should do, and I posted it. If there was a mistake, then I tried to fix it. I remember writing something wrong about human’s body temperature in  First Love First  until a reader reminded me about it; and how I wrote NaOH ins...

Kalimat Repetitif: Edisi Imbuhan -nya

Beberapa tahun lalu, pas masih kelas sepuluh, ada tugas bahasa Indonesia bikin kalimat sama temen sebangku. Kami mikirin adegan cuci piring, dan hasilnya, kalimat yang terbentuk malah kebanyakan kata “piring”. Misal, Ibu selesai mencuci piring lalu meletakkannya di tempat piring . Oke, aku agak lupa, tapi kira-kira gitu. Wkwk. taken from unsplash.com Sekarang, aku sering nemu banyak banget kalimat—baik di media sosial maupun di buku yang udah terbit—yang menggunakan “-nya” terlalu banyak ! Kebetulan, pas lagi buka One Little Thing Called Hope -nya Winna Efendi, aku nemu ini: “ Ia tidak akan dapat mengambil apa yang telah dikorbankan dan diberikan nya kepada cinta pertama nya .” --hlm. 69 Selama ini, aku selalu lebih suka pake kalimat aktif ketimbang pasif. Ambil dari contoh di atas, kata “dikorbankan” dan “diberikan”, yang pasif , bisa diubah jadi aktif (“mengorbankan” dan “memberikan”). Jadi, kira-kira, kalo diubah: Ia tidak akan dapat mengambil apa yang ...

10+ Kata Bahasa Indonesia yang Sering Salah Digunakan

1. Bonceng Beberapa orang menganggap , bonceng artinya duduk di depan —atau orang yang mengemudi. Padahal, menurut KBBI, bonceng atau membonceng artinya ikut atau  numpang . Membonceng artinya menumpang , orang yang duduk di belakang . Nggak usah heran kalo masih banyak yang salah menggunakan—mahasiswa [sastra Inggris] semester empat sama enam aja masih banyak yang belum tau kok. 3:> 2. Politisi / politikus Politikus itu satu orang, sementara politisi termasuk bentuk jamak nya, lebih dari satu. Biasanya, banyak yang nulis “para politisi”, padahal itu pleonasme (kayak nyebut “para politikus-politikus”). Yang lebih efisien, langsung ditulis para politikus atau politisi aja. 3. Nahas Kata bakunya nahas , bukan naas. 4. Adang Banyak orang nulis “menghadang”, padahal kata bakunya nggak pake huruf H. Sama kayak mengentak (bukan menghentak), mengimbau (bukan menghimbau), dan mengimpit (bukan menghimpit). 5. Mengkritisi Kalo maksudnya memberi k...

Akhiran "-in" dan "-kan"

Awal aku ngerti ada orang yang salah pake akhiran “-kan” di akhir kalimat tuh pas baca satu novel romance  empat tahun lalu. Di situ, “pelukan” ditulis “pelukkan”; padahal maksudnya menunjukkan kata benda, bukan kata perintah buat memeluk seseorang. Terus, “meletakkan”—yang K-nya dua —ditulis “meletakan”. Kesalahan itu berlanjut di sepanjang buku, dan bacanya nggak nyaman banget. Belakangan, aku juga nemu banyak kesalahan serupa di novel-novel yang udah terbit (baik yang beberapa tahun lalu, maupun yang baru-baru ini). Dan, seolah nggak mau kalah, media sosial pun jadi ladang kesalahan akhiran  “-kan”, juga “-in”, berkembang biak. Pembaca yang budiman, tolong dipahami, huruf K di akhiran “-kan” ditulis SATU kalo kata dasarnya berakhir dengan huruf K. Contoh: tunjuk jadi menunjukkan , renyuk jadi merenyukkan , letak jadi meletakkan , masuk jadi memasukkan . Dan lain-lain. Kalo kata dasarnya nggak berakhir dengan huruf K, ya udah, tinggal ditambahi akhiran “-kan”....

Keuntungan dan Kerugian Membaca Tips Nulis

Selama ini, aku suka banget baca tips-tips nulis; belakangan lebih suka yang berbahasa Inggris. Kayaknya sih sejak kenal Pinterest aku mulai gandrung. Apalagi bahasan topiknya beragam, bermanfaat, dan ngasih info baru. Sampe di tahun 2016(?), aku jadi semacam seneng sama konsep dan mengabaikan teknik. #sesat Enaknya baca banyak tips nulis berbahasa Inggris adalah, aku bisa lepas dari tips-tips nulis ala anak TK. Bisa dijamin, aku bakal nggak betah denger orang ngomongin Segitiga Freytag yang itu-itu doang. Atau hal-hal terlalu dasar kayak “tokoh harus dinamis” atau “penggambaran suasana itu bisa ngelibatin panca indra”. Iyaa, yang kayak gimana? Dari dulu perasaan juga gitu, hwhwhw. Kalo cari tips nulis sendiri, cara mendeskripsikan objek aja sampe dianalisis mulai dari bentuk dan tekstur benda, sampe fungsi harfiah dan fungsi di cerita. taken from unsplash.com Enaknya lagi, kalo bikin plot, otomatis otak mulai memproses konflik ruwet. Memang kayak mempersulit diri sendi...