Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label review buku

Rave Review: Dan Hujan pun Berhenti

Someone said that romance is a fantasy , but sometimes the line between sanity and flattery is thin, especially for stories like Dan Hujan pun Berhenti . (Wow it rhymed I’m okie dokie happy) :”) Ini sebenernya lebih ke rant review daripada “ rave ” sih. Urutannya pun nggak beraturan, karena aku udah males mikir setelah hampir seminggu mencoba ngabisin buku ini di iPusnas. Bakal ada major spoilers yang aku jabarkan, jadi hati-hati bagi yang belum baca. :3 Baca ini kudu inget kalo Leo masih kelas 11 SMA dan mungkin jiwa pemberontaknya masih berkobar, cuman dia udah kelewatan dan keterlaluan. Dia ngatain guru dan temen-temennya sendiri sebagai hewan, minta alamat Spiza ke guru TU setelah mukul guru yang bersangkutan, habis itu masih maksa mau masuk ke rumah Spiza. Nggak berhenti di situ. Setelah ngerusak mobil Tyo, malah Luthfi—temen yang dia sebut bebek di hlm. 60-an itu—yang ngeganti rugi. (Meski ternyata nggak dibayar beneran, Leo tetep nggak mau ganti rugi; padahal dia udah salah du...

[Rave Review] One More Chance

Aku baca One More Chance karena pinjem temen, dan emang lagi pengen menyelami genre romance lokal lagi. I have like, zero expectations from the start karena gaya bahasa Ninna Rosmina renyah banget, enak diikuti dan ngalir. Bikin aku pengen ngebuka halaman demi halaman tanpa henti (meski it actually took months to me to finish it, lmao ). One More Chance nyeritain tentang Violina Dawai (dipanggil Vio), cewek berkepribadian ceria dan punya masa lalu “misterius”. Sebenernya udah dari awal ditunjukin kalo ada yang aneh dari Vio, dan ternyata dia punya penyakit kanker (ada di prolog nih, bukan spoiler ya wkwkwk).  Nah, si Vio ini ketemu Cello, salah satu personel band yang dia gemari sejak SMA.  Vio somehow pengen ketemu lagi sama Cello, makanya daftar di universitas plus jurusan yang sama kayak Cello, yakni arsitektur. Seperti yang bisa ditebak, Cello tipe cowok cuek yang suka gonta-ganti pacar. He gave cold shoulders to Vio di awal cerita, tapi Vio nggak pernah nyerah untu...

Jingga Untuk Matahari: A Review

Eh, what could I say? Secara keseluruhan, baca buku ini tuh... melelahkan. And I just don’t know how or when to stop , wkwkwk. :) Banyak banget hal yang kurang cocok sama aku dari cerita JUM ini, despite I still give it three stars . Mulai dari judul yang kurang sesuai dan blurb yang agak-agak tricky dan nipu, plot dan gaya bahasa yang “kedodoran”, sampe porsi tiap tokoh yang timpang. Aku bakal bahas satu per satu serunut mungkin ya, tapi kalo di tengah-tengah agak ngomongin pengalaman dan kesan selama baca ya, please bear with me . Hehe. Pertama-tama, judul—dan kover. Dua orang gandengan, dengan tulisan Jingga untuk Matahari , bikin aku berekspektasi bahwa cerita ini bakal uwu-uwu gitu. Yha intinya banyak adegan pacarannya, trus ngelibatin cinta segitiga, cemburu-cemburuan, ngerebut cewek orang, gitu-gitu lah. Sesuai di blurb banget. Yha, uwu-nya ada sih di bab lima pas Seno pining ke A , tapi sebenernya blurb di belakang itu cuma dekorasi lho. Isinya ya, seba...

Remedy: A Somewhat Rave Review

It’s so rare to see me writing a review on my blog, what with my constant(?) update on Goodreads. Wkwk. But there’re several reasons as to why I turn the tide a bit: 1) I have a lot of things to say—which can still be managed on Goodreads, but yeah, it seems that blogspot has an easier way to contain such longer posts; 2) I would also like to talk about some input I’ve got so far—be it from others’ influence or my own opinion, and this might end up in a kind of heart-to-heart talking, so I think blog entry would be more comfortable and on point; 3) Navin!! Tania!! The famous chapter   18 that made my heart went uwuwuwu!! I just can’t!   This world has done me justice, y’all . (ง ° ͜ ʖ °)ง   i'm sorry the quality isn't that good; i'm too lazy to take pictures outside  (๑•́ ₃ •̀๑) First thing first, I would like to highlight some things before we go to the rave review. As a reader who enjoys so many good stories, I still believe that “language and l...

Kesan-kesan Setelah Baca The Subtle Art of Not Giving a F*ck

Setelah baca The Subtle Art of Not Giving a F*ck -nya Mark Manson, aku tergerak. Banget. Dan sepanjang aku baca, aku sering nemu kata-kata penyemangat. Bentuknya cenderung biasa, nggak mirip kata-kata mutiara yang sering bikin orang ngiler sampe buta realitas gitu. Kalimat-kalimat Mark Manson tuh ngena, apa adanya, dan nggak terlalu dreamy . taken from Google Ada beberapa poin yang pengin kugarisbawahi, di antaranya adalah soal overdosis hal positif , just do something sebagai jawaban atas berbagai kegelisahan, dan belajar untuk masa bodo . Pertama, overdosis hal positif. Jujur aja, di depan orang banyak, entah di dunia nyata maupun maya, manusia selalu diharapkan berlaku baik, ramah, sopan, you name it . Lama-kelamaan, selain jadi hal lumrah yang diterima masyarakat, hal positif ini bikin barang negatif jadi antagonis. Nah, padahal, kebanyakan nelan hal positif juga bisa bikin overdosis. Bikin manusia menekan perasaan negatifnya cuma demi orang baik yang mampu ngo...