Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label karya fiksi

[Fanfiction] Have we met before?

# Xindie   # Fanfiction  (Reached - Ally Condie) Xander saw a girl coming through the gate. He let out a gasp, his mouth full with words to say but couldn't form any yet. He waited until the girl came near her. With so much hesitation and conflicted urge, Xander extended his hand, reaching out until it gripped the girl's arm tightly. As if it was their last meeting instead of the first one. “Have we met before?” he asked, clearing his throat awkwardly. The girl chuckled. She smiled, and she looked so beautiful. She always did—Xander just forgot where he had seen it. “It’s a lame way to approach a girl, you know?” She stepped back, letting go Xander’s hand slowly so that he wouldn't hurt. “I'm Indie, by the way. Indie Holt. You?” His heart skipped a beat, but he managed to say, “Xander. Xander Thomas Carrow.” ___________________ Maaf yha. Ku sudah sangat desperate melihat mereka jadian. Wkwkwkwk.   👻 👻...

[Snippet] Telepon Masa Depan

#NulisRandom2017 #NulisBuku Aku menunggu nada dering yang berdengung statis. Menggigit bibir, aku sedikit harap-harap cemas kalau panggilan ini tidak diangkat. Setelah beberapa detik yang terasa seperti seabad, orang di seberang pun menyahut, “Halo?” Aku langsung menegakkan badan dan membalas, “Ha-halo. Hei.” Aku berdeham, sedikit ingin berbasa-basi, tapi tau pasti usaha ini sia-sia saja. “Hmm, kau tahu, ada yang ingin kutanyakan padamu.” taken from Pinterest “Sebelumnya, orang asing, sebutkan dulu namamu.” Dia terdengar dingin dan sinis, sangat berjarak untuk ukuran orang yang tampak berbicara banyak. Atau, menulis banyak. “Tidak perlu,” aku berkacak pinggang, mulai kesal, “aku terburu-buru. Bisakah kau beri tahu seberapa sering kau depresi akhir-akhir ini?” “Kau bercanda? Aku bahagia. Lihat tumpukan jurnal yang kusimpan di tempat aman. Mereka sudah jadi companion terbaik dalam hidupku.” Rasa bangga melumuri kalimatnya, yang membuatku ikut tersenyum—cen...

[Snippet] Pertanyaan Pertama Setelah Dibekukan secara Kriogenik Selama 100 Tahun

  #NulisRandom2017 #NulisBuku “Apa aku bangun di luar angkasa?” “Kenapa belum ada yang kepikiran ngebunuh aku? Siapa yang ngejaga?” “Atau aku cuma beruntung? Ada yang salah ngebunuh, akhirnya sekarang setelah seratus tahun, aku masih hidup?” “Kalo aku masih tetep di Bumi, aku harus ngapain? Apa maksudnya? Peran penting apa yang bisa aku kontribusikan?” “Apa sekarang aku bakal dianggap keren, mengingat secara harfiah aku sudah merintangi ruang dan waktu , dalam tidur yang amat, sangat panjang?” “Oh, jangan tanya kenapa bisa jadi keren. Seratus tahun lalu, aku dianggap pecundang karena nggak punya cita-cita belajar di luar negeri.” “Benar. Sampe kamu ke luar negeri, you will likely be acknowledged . Padahal sebenernya menetap juga nggak salah.” “Kenapa aku dibekukan secara kriogenik? Well , kenapa kamu mencairkan aku?” “Tenang aja. Aku masih ingat kenapa aku bisa dibekukan. Kamu bisa membawaku ke pihak berwajib, kalau-kalau kamu tak...

[Snippet] The Last Person You Held Hand with

#NulisRandom2017 #NulisBuku [Questions to Ask Your Characters] Who is the last person you held hand with? Do you think you’ll be in relationship two months from now? “Aku... aku khawatir kita masih diikuti.” Daffa Danadyaksa mengeluarkan sejejak asap dari mulutnya, menggigil kedinginan sambil tetap menggenggam tangan Risha. Mereka baru turun dari kereta api arah kecamatan-kecamatan tertentu, berangkat dari pusat kota sejak tadi pagi. Risha Arabella tertawa, mengayunkan genggaman mereka sambil menatap Daffa lekat-lekat. “Kita masih bisa lari ke rumah masing-masing terus ngadu ke orangtua, tau.” Seringai puas muncul di bibirnya. Risha sampai heran, harusnya Daffa-lah yang menikmati permainan ini. Sehari sebelumnya, Risha kalah bermain monopoli dengan kakaknya dan tetangga-tetangga lain. Lalu ditantang untuk pergi ke pusat kota naik kereta seharian, tanpa membeli tiket . Berdiri memang jadi satu-satunya pilihan, tapi karena perjalanan dari pusat kota ke rumah mereka...

[Snippet] Cantilever

#NulisRandom2017 #NulisBuku Kyla menyampirkan syal yang sudah robek di sana-sini, melanjutkan perjalanan ke tepian kota Sabia Utara. Angin berembus kencang, membuatnya menggigil dan mempercepat langkah. Dua jam yang lalu, dia memutuskan tidur siang di cabang pohon apel raksasa dekat perkebunan ayahnya. Tanpa tali yang menjaganya, Kyla terjatuh keras. Gerutuan dan umpatannya bertahan selama sepuluh menit, sebelum akhirnya Kyla memutuskan untuk kembali memanjat, memetik selusin apel dan menyimpan mereka di ransel, dan kembali berjalan. Kotanya sendiri, Sabia Timur, belakangan dipenuhi orang-orang pengangguran yang duduk-duduk di trotoar dan tengah jalan. Tidak ada kendaraan atau mesin yang berjalan. Toko-toko tutup. Kekurangan bahan bakar yang dialami negaranya benar-benar parah, hingga untuk ke mana-mana, mereka hanya bisa mengandalkan kaki, kuda, atau sepeda kayuh. Suatu hari, Kyla membujuk ayahnya agar diizinkan menemui The Common—pihak oposisi yang menguasai sektor...

[Snippet] Membaca Buku yang Sama

#NulisRandom2017 #NulisBuku AU: You saw me reading the same book you did and we got into heated discussion on how much it sucks . Sejak memberi Mai cokelat (teman-teman yang lain memanggilnya “Maisha”, tapi bodo amat), Kellen melihat cewek itu jarang kabur ke perpustakaan. Mai tetap datang pagi, begitu juga Kellen, dan cewek itu menetap di kelas. Pagi ini, Kellen melihatnya duduk tenang sambil memegang satu novel berkover cantik. Tanpa ragu, Kellen mendekatinya dan bertanya, “Kamu suka novel remaja gini, ya?” Dengan gestur kasual, Kellen menunduk dan menegakkan buku itu, mengintip kovernya. Matanya menyipit selagi membaca, “Dibaca lebih dari jutaan kali—” “Suka, tapi bukan yang kayak gini.” Maisha membanting bukunya di atas meja, lalu mengembuskan napas. “ Typo -nya banyak banget, Len. Jalan ceritanya nggak terarah, nggak masuk akal, banyak yang bolong. Cara nulisnya juga kaku.” “Kamu nyesel udah beli?” “Enggak sih, lagian cuma delapan puluh ribu kok.” Maisha ters...

[Snippet] Cokelat

#NulisRandom2017 #NulisBuku Aku pernah iseng nyari tips nulis di Quora. Ada satu yang paling kuinget, dan kupikir caranya kreatif banget: melanjutkan kalimat dari koran atau majalah . Jadi, misal kita buntu nulis, kita buka halaman majalah secara acak, terus kalimat pertamanya apa, kita lanjutin sendiri jadi cerita atau tulisan yang sepenuhnya baru. Menurutku ini keren banget, terutama buat yang kesulitan memulai kalimat, nyari ide, atau buntu nulis di tengah-tengah. Sama kayak writing prompt , siapa tahu kita malah bisa bikin adegan yang ”kaya”. Nggak dari koran atau majalah aja, menurutku bisa dari novel, cerpen, lirik lagu, atau bahkan buku pelajaran. (Cuma kalimatnya nggak usah ditulis, langsung dilanjutin aja. Atau kata-katanya diganti, biar nggak plagiat.) Cara lain yang ampuh adalah lihat ramalan bintang! Biasanya di ramalan bintang banyak masalah kehidupan yang bertebaran. Siapa tahu ada satu-dua hal yang bisa dijadikan konflik, sekaligus relatable buat pembaca. ...